May 15, 2022

Kata pendidikan dalam bahasa latin ialah educare. Kata educare memiliki konotasi “melatih-menjinakkan. Dalam konteks ini, pendidikan ialah suatu proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan dan menata. Konsep ini mirip dengan konsep romawi kuno dimana ada usaha untuk menciptakan kader manusia, guna mengubah kelompok masyarakat agar semakin lebih baik lagi. Pendidikan ini pertama-tama dibentuk dalam keluarga di mana ada nilai dan norma yang diwariskan lewat tradisi. Kemudian tentu saja Ayah dan Ibu memiliki peran penting dalam proses pendidikan anak tersebut. Maka dalam hal ini, keluarga adalah tempat pertama dan utama menumbuhkan nilai kemanusiaan tersebut agar semakin lebih baik lagi.

Dalam konteks indonesia, Driyarkara merumuskan dan menjelaskan bahwa pendidikan ini adalah proses humanisasi yang dibedakan dengan hominisasi. Sebelum sampai pada humanisasi manusia menjalani proses hominisasi, yakni proses menjadi manusia tahap awal. Proses ini membuat manusia mengerti dirinya yang tidak sebatas mahkluk biologis semata, melainkan juga sebagai pribadi yang bisa menentukan dirinya. Sementara proses humanisasi adalah tahap yang lebih tinggi karena proses itu menuju pada proses manusia untuk berkebudayaan lebih tinggi. Humanisasi adalah proses pendidikan manusia untuk menjadi manusiawi atau homo yang human. Hal itu menuntut pendidikan menjadi keharusan bagi manusia dalam mewujudkan dirinya yang utuh dan dalam berelasi dengan dunianya. Oleh karena itu pendidikan dipandang sebagai proses penyempurnaan diri, juga merupakan proses pemberadaban.

Dalam proses pendidikan itu ada relasi timbal balik yang terjadi antara pengajar dan penerima pengajaran. Dalam konteks pendidikan di sekolah, itu terjadi antara guru dan murid. Di sini guru memiliki peran sebagai fasilitator, mediator, dan motivator. Proses mengajar menjadi seni untuk membantu peserta didik. Agar proses itu terjadi, maka visi tentang pendidikan mesti dikonkritkan. Mendidik adalah suatu tindakan fundamental yang didasari oleh kehendak, cinta dari pendidik kepada subjek yang sedang menjadi. Pendidikan harus bersifat dialogis, suatu relasi subjek dengan subjek. Mendidik berarti memasukkan  dunia nilai-nilai ke dalam jiwa anak.

Karena itu, pendidik harus memperlakukan manusia dengan hormat. Henri Nouwen dalam bukunya “pelayanan yang kreatif”, menjelaskan bahwa pengajaran juga merupakan proses yang membebaskan. Bentuk pengajaran yang membebaskan digambarkan dengan cirri: evokatif (membangkitkan), dua arah dan mengaktualisasikan. Proses mengajar dan diajar semestinya saling membangkitkan. Gurunya menawarkan pengalaman hidupnya sebagai sumber pemahaman dan pengertian. Murid juga dapat menawarkan pengalaman hidup mereka kepada Guru. Maka satu unsur pokok penting di sini ialah guru menjadi sahabat bagi murid. Dengan demikian katakutan hilang dan keterbukaan untuk belajar semakin menyejukkan. Sementara itu, sifat dialogis tadi menjadikan proses pendidikan berjalan dua arah. Guru dan murid saling belajar dan mengajar.

Kemudian pendidikan itu pada akhirnya mesti kontekstual dan menjadi nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang diperoleh otak semestinya mengalir ke anggota tubuh lain. Misalnya, pelajaran diksi dalam satra Indonesia hendaknya menjadikan pribadi seseorang mampu untuk memillih dan memakai kata yang tepat dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sehingga kata-kata yang tidak layak diucapkan dapat terhindarkan. Hal yang sama berlaku dengan ilmu yang lain, Matematika, Fisika, Sejarah, dan lain-lain. Di sini Konsep-konsep baku diterjemahkan lewat anggota tubuh yang lain, menjadi praktik hidup yang baik. Inilah gambaran orang yang terididik.

Semoga pendidikan kita semakin maju dan menjadi bagian penting dalam masyarakat demi bangsa yang berbudaya dan beradab. (ts)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related News